Jumat, 21 Agustus 2009
Kleidoskop SMP 1 wonogiri th 2008
Tahun 2008 berlalu, dan kita masuki tahun 2009.
Banyak yang terjadi selama di tahun 2008 tersebut. Banyak prestasi telah kita raih,
banyak caci maki kita peroleh banyak pengalaman pahit getir, manis yang kita rasakan
dan kesemuanya kita rangkum dalam laporan kleidoskop SMP1 2008 berikut ini :
1. Januari 2008 : Memasuki semester genap tahu ajaran 2007/2008
- pembangunan gedung baru berlantai 3 dalam
tahap akhir.
- Persiapan Lounching kelas RSBI
2. Februari 2008 : Persiapan akhir Kelas RSBI, yang terdiri dari Sekolah-
sekolah :
- SMP Negeri 1 WONOGIRI,
- SMA Negeri 1 WONOGIRI,
- SMA NEGERI 2 WONOGIRI.
3. Maret 2008 : Ulangan Tengah Semester
4. April 2008 : Mendiknas Secara Symbolis meresmikan RSBI
untuk 3 Sekolah di Kab. Wonogiri.
Ujian Praktek bagi kelas 3,
Ujian akhir Nasional
5. Mei 2008 : Ujian AKhir Sekolah
6. Juni 2008 : Ulangan Umum Kenaikan Kelas bagi kelas 2 dan 1
Lomba Perpustakaan tingkat Propinsi
Pengumuman Kelulusan UAN
Penerimaan Murid Baru
7. Juli 2008 : Tahun AJaran Baru 2008/2009
8. Agustus 2008 : Peringatan hari Kemerdekaan RI yang ke 63
9. September 2008 : Libur Bulan Puasa
Pesantren Ramadlan 1429 H
Lomba PMR “JUMBARA”
Reuni ALumni SMP Negeri 1 Wonogiri ANgkatan 86 dan 84
10. Oktober 2008 : Mid Semester
11. Nopember 2008 : Pemindahan Ruang Perpus ke Gedung Badminton,
sebagai awal pembangunan gedung perpus yang baru,
Lab IPA dan Lab Multimedia.
12. Desember 2008 : Ulangan Semester 1 tahun ajaran 2008/2009
Workshop TIK bagi guru-guru SMP N1 Wng
Libur Semester 1
Libur Natal
Libur Tahun Baru
Pergantian Tahun Baru Hijriyah Tahun Saka
dan Tahun Masehi Outbound siswa/I PBB1
dan 2 di SMP Muhammadiyah Giriwoyo dengan
kegiatan :
1. Proses Pembelajaran lapangan dengan mengunjungi
Pabrik tempe dan Tahu “VINI, VIDI dan VISI” atau
Datang, melihat dan praktek langsung bisa!
2. Penghijauan Lahan Kritis , Lahan Tandus di Giriwoyo
dengan menanam 1000 bibit pohon Jati dan Sengon.
sangat layak pakai dan buku-buku bacaan untuk isi
perpustakaan SD N Giriwoyo.
Jumat, 14 Agustus 2009
Bingunx
Mw ngepOsting apA ya...???? 1 bUlan ngePOstingin bLoG....?????
mW cuRHat mnAlu, mW njipLAk poStingan oRAnx nNti d tuntut.... hAdudwh
Sabtu, 08 Agustus 2009
Memiliki Indra keenam
Sixth sense = indera keenam. Indigo child = anak-anak yang punya indera keenam. Berarti, orang punya sixth sense itu indigo child? Lo termasuk?
Logikanya sih gitu. Tapi, ternyata nggak lho! Orang yang punya sixth sense, belum tentu indigo child. Sementara indigo child, udah pasti punya sixth sense.
SIXTH SENSE
Sixth sense. Kalo diterjemahin plek-plekan, artinya adalah indera keenam.
Yoi. Secara kasat mata, indera yang kita miliki emang cuma ada lima. Hidung, mata, mulut, telinga, dan kulit. Tapi, menurut ajaran spiritual dari India, ada satu mata lagi yang nggak keliatan, yang letaknya konon di antara dua alis kita, pas di tengah-tengah jidat. Sehingga kalo dijumlahin, mata kita semuanya ada tiga! Mata ketiga inilah si indera keenam tadi.
Oleh orang India, mata ketiga yang disebut dengan cakra ajna (cakra = sumber energi dalam tubuh manusia, sedangkan ajna = di tengah), dianggap sebagai indera yang spesial. Sebab, mata ketiga tersebut memungkinkan kita memiliki kemampuan-kemampuan lebih. Yaitu:
1. Telepathy (kemampuan membaca pikiran).
2. Clairvoyanc (kemampuan melihat peristiwa yang terjadi di tempat lain).
3. Precognition (kemampuan meramalkan kejadian yang akan datang).
4. Retrocognition (kemampuan buat melihat peristiwa di masa lampau).
5. Mediumship (kemampuan menggunakan roh sebagai medium).
6. Psychometri (kemampuan menggali informasi lewat sebuah benda).
KITA JUGA PUNYA INDERA KEENAM
Lajut ngomongin soal indera keenam, pada dasarnya semua orang memiliki sixth sense kok. Cuma, ada yang udah terbuka, ada yang belum. Dan yang udah terbuka, ada yang udah terasah dengan tajam, ada yang belum.
So, kalo kita emang pengen sixth sense kita terbuka dan tajam, ya tinggal dilatih aja! Caranya? Berusaha menghilangkan pikiran-pikiran duniawi (terutama yang negatif), juga menghilangkan ego. Dengan begitu batin akan terasa lebih tenang, dan pikiran hanya terfokus pada Yang Maha Kuasa. Sehingga, energi dalam diri kita bisa nyambung dengan energi yang lebih tinggi: energi Yang Maha Kuasa.
Dengan sixth sense yang udah terbuka dan tajam, kita bisa menembus dimensi ruang dan dimensi waktu. Sebab, dua dimensi ini pada hakikatnya sulit kita tembus karena keterbatasan panca indera aja.
KELENJAR PITUITARI
Ini pertanyaan paling mendasar: apa kata ilmu pengetahuan ilmiah tentang sixth sense?
Penelitian medis jaman dulu sih bilang kalo sixth sense bersumber pada kelenjar pituitari yang ada di dasar otak manusia. Katanya, pada masa manusia baru muncul di bumi, jarak antara manusia dengan energi Yang Maha Kuasa masih dekat. Penyebabnya, kelenjar pituitari manusia masih menonjol ke luar seperti antena. Kelenjar ini kan berfungsi memancarkan sinyal yang menghubungkan energi yang ada dalam tubuh manusia dengan energi Yang Maha Kuasa.
Kalo sekarang, kelenjar pituitari udah kecil. Size-nya tinggal segede biji kancang ijo! Makanya, meski letak dan fungsinya masih sama seperti dulu, kelenjar pituitari sulit memancarkan sinyal yang menghubungkan energi yang ada dalam tubuh manusia dengan energi Yang Maha Kuasa.
Itu teori medis! Kalo dari sudut pandang ilmu psikologi, sixth sense katanya terjadi karena perkembangan otak kanan manusia udah sangat maju. Otak sebelah kanan kan pusat kemampuan belajar bahasa, keindahan, dll., yang intinya mengasah kepekaan jiwa. Nah, jika jiwa udah peka, otomatis intuisi kita juga lebih tajam toh?
INDIGO CHILD
Istilah indigo child pertama kali dipopulerkan oleh Lee Carroll dan Jan Tober, lewat buku mereka yang berjudul The Indigo Children: The New Kids Have Arrived. Lee dan Jan bilang, indigo child adalah orang yang memperlihatkan serangkaian kemampuan psikologis yang baru dan nggak biasa.
Lebih jauh mengulik istilah ini, bila kita bahas dengan cara dipenggal, indigo artinya campuran warna ungu dan biru. Dalam ilmu metafisika (ilmu yang mempelajari hal-hal nonfisik, RED.), dijelaskan bahwa setiap manusia punya tujuh sumber energi (cakra). Nah, masing-masing sumber energi kalo dijabarin ke dalam spektrum cahaya akan memperlihatkan warna yang berbeda-beda. Salah satunya warna indigo, yang terpancar dari cakra ajna. Sehingga, seseorang yang sixth sense-nya udah terbuka, aura yang menyelubungi dirinya akan berwarna indigo.
Terus, kenapa nggak ditulis indigo aja, tanpa embel-embel child? Soalnya, mereka berbeda dengan pemilik sixth sense lain. Mereka tuh generasi baru, Bro. Baru bermunculan di milenium ketiga! Di milenium pertama dan milenium kedua para indigo child belum ada, meskipun orang-orang yang sixth sense-nya udah terbuka dan tajam bertebaran di mana-mana.
Kemunculan para indigo child di milenium ketiga ini bukan tanpa alasan. Menurut cerita yang beredar, mereka membawa misi-misi tertentu. Dengan segenap kemampuan lebih yang diperoleh dari terbuka dan terasahnya sixth sense mereka sejak lahir, para indigo child diutus oleh Yang Maha Kuasa untuk membawa pencerahan di dunia yang makin hari makin ancur. Mereka diharapkan bisa mengembalikan kembali keseimbangan alam!

EVOLUSI DNA
Buat penjelasan ilmiah mengenai indigo child, ada sesuatu yang unik. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa susunan DNA para indigo child berbeda dengan susunan DNA manusia kebanyakan.
DNA itu kan bertugas menyampaikan informasi genetik dalam sebuah sel. Umumnya, dalam susunan DNA manusia ada bagian-bagian yang disebut junk DNA. Pada seorang indigo child, bagian itu plus beberapa bagian lainnya yang belum teridentifikasi oleh para ilmuwan, memperlihatkan susunan yang lebih rapih dan lebih giat bekerja dibandingkan pada orang-orang yang bukan indigo child.
Tapi, apakah evolusi DNA ini yang menyebabkan seseorang menjadi indigo child, sampe sekarang tetap belum bisa dipastikan. Dan, apakah evolusi DNA ini nge-link dengan hal-hal ajaib yang kerap ditunjukkan oleh para indigo child (seperti: memiliki otak superjenius, atau bisa sembuh total secara alamiah dari penyakit-penyakit yang belum ditemukan obatnya kayak HIV/AIDS), juga belum ketauan jelas!
CIRI-CIRI INDIGO CHILD
Ini yang rada susah buat diobrolin. Selain ciri memiliki kemampuan-kemampuan sixth sense sejak lahir, indigo child jelas punya ciri lain. Hanya aja, ciri-ciri lain tersebut nggak bisa dibilang absolut. Sebagian indigo child yang memperlihatkan ciri yang dimaksud, sebagian malah nggak sama sekali.
Cuma ada satu benang merah yang bisa ditarik: indigo child sering kali didiagnosis salah oleh orang-orang di sekitarnya! Mereka kerap dinilai sebagai anak-anak yang menderita gangguan psikologis. Contoh: gangguan konsentrasi, gangguan bipolar (sebentar seneng, sebentar sedih, dengan alesan yang nggak jelas), bahkan skizofrenia (gila) sekalian.
Semua ini dipicu oleh pandangan mereka yang nggak cocok dengan orang kebanyakan. Misalnya aja, mereka nggak bisa mentolerir sikap otoriter. Soalnya bagi mereka, setiap manusia di muka bumi tuh ditugaskan untuk sama-sama mengelola dunia, bukan saling menekan. Yang lain, mereka juga nggak bisa nerima sistem-sistem yang terlalu berorientasi ritual dan nggak memakai kreativitas tertentu. Makanya ujung-ujungnya mereka suka memilih menarik diri dari lingkungan.
Sabtu, 01 Agustus 2009
Sistem kimia sederhana yang mampu meniru DNA tercipta
Model seniman pada untai DNA. Para peneliti melaporkan telah menciptakan sebuah analog baru dari DNA yang mampu menyusun dan melepas dirinya sendiri tanpa bantuan enzim. (Credit: iStockphoto)
ScienceDaily (June 12, 2009) — Sebuah tim ilmuan dari Scripps Research telah menciptakan sebuah analog baru dari DNA yang menyusun dan melepas dirinya tanpa perlu enzim. Karena sistem ini memuat komponen yang diduga ada pada dunia purba, sistem kimia baru ini dapat menjawab pertanyaan mengenai bagaimana kehidupan bisa muncul.
Penemuan yang dilaporkan dalam jurnal Science ini, dapat pula menjadi titik awal menuju bahan baru eksotis yang mampu memperbaiki diri atau merubah dirinya dalam merespon lingkungan.
Para ilmuan dikesankan sekaligus dipusingkan oleh pertanyaan bagaimana kehidupan bisa muncul di bumi. Salah satu teori yang paling diterima adalah, sebelum kemunculan DNA, bentuk terawal kehidupan memakai RNA untuk mengirim kode genetik mereka. Leslie Orgel, salah satu peneliti dalam paper baru ini, adalah yang pertama kali mengajukan gagasan ini, yang disebut “Dunia RNA.”
Salah satu tantangan teori ini adalah RNA terlalu rumit sehingga banyak peneliti percaya masih ada yang lebih sederhana lagi sebelumnya. “Saya menelitinya bertahun-tahun untuk belajar replikator dan sistem genetik apa yang mungkin ada sebelum dunia RNA,” kata pemimpin tim peneliti ini Professor Reza Ghadiri, ahli kimia Scripps Research
Satu fokus kuncu untuk tim Ghadiri adalah peran purba potensial dari asam amino. Tahun 1996, kelompok ini menunjukkan pertama kali kalau untai asam amino, atau peptida, dapat mereplikasi diri sendiri pada kondisi bebas enzim. Dalam karya saat ini, lab Ghadiri memperluas fokus ini dengan menciptakan tipe lain sistem informasi yang mampu meniru evolusi Darwin. “Ini adalah langkah awal menuju kesitu,” kata Ghadiri.
Balok bangunan yang lebih sederhana
Sementara sebagian besar penelitian dengan analog DNA seperti PNA berfokus pada basa nukleat yang telah ada pada satuan tulang punggung mereka, Ghadiri mendapat gagasan untuk bekerja dengan balok bangunan yang lebih sederhana. Bila balok-balok ini telah dengan mudah membalik ikatan, tidak seperti DNA dan PNA, ia dapat menghindari kebutuhan enzim sementara mempertahankan ciri kunci untuk menyandikan informasi.
Melihat kembali pada keberhasilan percobaan kemudian, Ghadiri mengatakan, “Ini saatnya anda mengatakan pada diri anda sendiri, “Kenapa tidak terpikir oleh saya dulu?”
Sistem baru yang dihasilkan memuat dua tipe komponen utama. Satuan tulang punggung adalah peptida yang terkait dalam sebuah pola himpunan dengan asam amino sistein yang terekspos dan tersedia untuk bereaksi. Peptida ini berinteraksi dengan basa nukleat yang sama yang ditemukan dalam DNA, namun setiap basa nukleat terikat pada satu senyawa organik yang disebut tioester.
Ikatan tioester dapat balik dengan sistein pada peptida untuk membentuk asam nukleat peptida tioester (tPNA). Ini memungkinkan basa nukleat melekat dan melepas sendiri tanpa enzim, sehingga untai peptida tersebut akan menopang barisan basa nukleat yang bergeser-geser. Proses ini seperti tentara yang berjalan di lapangan untuk membentuk sebuah formasi lalu pindah ke formasi lainnya.
Bila segmen terbuka dari DNA ditambahkan sebagai landasan pada sebuah larutan dengan komponen tPNA, tentara basa nukleat akan secara otomatis membentuk formasi pada untai peptida yang mengkomplemen DNA sesuai aturan standar Watson-Crick dimana adenin dengan timin dan sitosin dengan guanin.
Ikatan untai tPNA dan DNA dapat berkomplementer, namun pasangan ini dapat dibuka kembali dengan menambahkan campuran DNA komplementer, yang mengalahkan tPNA dalam ruang pada landasan awal. Pasangan DNA-DNA tetap stabil, menyebabkan komponen tPNA kembali bergetar secara tidak stabil hingga landas DNA baru ditambahkan dan proses mulai kembali.
Tim Ghadiri juga mampu menunjukkan kalau untai tPNA dapat menjadi sebuah landasan, menyebabkan pembentukan tPNA pengganti dan saling pasang untai, walau mereka belum dapat mencapai replikasi diri tPNA, tujuan puncaknya.
Semua penyusun kimia dari tPNA dapat ditemukan dalam dunia sebelum kehidupan muncul. “Jadi menggoda untuk memikirkan kemungkinan kalau peptida dan asam nukleat berperan dalam sistem genetika purba,” kata Ghadiri.
Walau demikian, karena tPNA dapat dengan mudah terurai, untai ini tidak secara teknis mengirim informasi, dan transmisi itulah yang justru merupakan cara DNA mengendalikan kehidupan.
Agar lebih memahami peran purba tPNA potensial, tim ini kini mencari cara sehingga unit tPNA dapat secara kimia diubah sedemikian hingga pada satu titik para tentara mulai saling mengunci tangan setelah mencapai formasi tertentu, memungkinkan lewatnya informasi. Tim ini juga meneliti struktur tPNA, yang dapat berupa heliks ganda atau sangat berbeda.
Melebihi pertanyaan asal usul kehidupan, Ghadiri mengatakan kalau penelitian ini juga menawarkan beberapa kemungkinan jauh yang menarik, khususnya dalam mempertimbangkan kalau ada tak terhitung kemungkinan menciptakan sistem sama dengan tPNA memakai beragam penyusun kimia. Sistem demikian dapat membawa p ada pembentukan enzim baru atau zat kimia baru yang mampu mengkatalis reaksi dalam penggunaan biomedis atau lainnya. ”Kapasitas untuk memiliki struktur lipat seperti asam amino dengan fitur protein akan memberi kita fungsionalitas baru,” katanya, walau mustahil mengatakan apa fungsionalitas baru itu sekarang.
Ghadiri juga membayangkan pilihan sains fiksi untuk bahan terkait tPNA seperti plastik yang dapat memperbaiki dirinya sendiri saat pecah. Kemungkinan lain, terikat pada bagaimana tPNA menyusun diri saat di ekspos beragam landasan, dapat menciptakan bahan yang dapat memodelkan dirinya sendiri dengan merespon perubahan lingkungan.
”Anda dapat secara prinsip melakukan banyak hal, dan kami antusias mengenai prospeknya,” kata Ghadiri. "Ini baru awal."
Selain Orgel dan Ghadiri peneliti lain adalah Yasuvuki Ura, John Beierle, dan Luke Leman, semuanya dari Scripps Research Institute.
Penelitian ini didukung oleh Skaggs Institute for Chemical Biology, NASA Earth and Space Science Fellowship Program, dan NASA Science Mission Directorate's Planetary Science Division. Paper ini didedikasikan untuk mendiang Leslie E. Orgel.
Journal reference:
1. Yasuyuki Ura, John M. Beierle, Luke J. Leman, Leslie E. Orgel, M. Reza Ghadiri. Self-Assembling Sequence-Adaptive Peptide Nucleic Acids. Science, 2009 DOI: 10.1126/science.1174577
Sistem kimia sederhana yang mampu meniru DNA tercipta
Model seniman pada untai DNA. Para peneliti melaporkan telah menciptakan sebuah analog baru dari DNA yang mampu menyusun dan melepas dirinya sendiri tanpa bantuan enzim. (Credit: iStockphoto)
ScienceDaily (June 12, 2009) — Sebuah tim ilmuan dari Scripps Research telah menciptakan sebuah analog baru dari DNA yang menyusun dan melepas dirinya tanpa perlu enzim. Karena sistem ini memuat komponen yang diduga ada pada dunia purba, sistem kimia baru ini dapat menjawab pertanyaan mengenai bagaimana kehidupan bisa muncul.
Penemuan yang dilaporkan dalam jurnal Science ini, dapat pula menjadi titik awal menuju bahan baru eksotis yang mampu memperbaiki diri atau merubah dirinya dalam merespon lingkungan.
Para ilmuan dikesankan sekaligus dipusingkan oleh pertanyaan bagaimana kehidupan bisa muncul di bumi. Salah satu teori yang paling diterima adalah, sebelum kemunculan DNA, bentuk terawal kehidupan memakai RNA untuk mengirim kode genetik mereka. Leslie Orgel, salah satu peneliti dalam paper baru ini, adalah yang pertama kali mengajukan gagasan ini, yang disebut “Dunia RNA.”
Salah satu tantangan teori ini adalah RNA terlalu rumit sehingga banyak peneliti percaya masih ada yang lebih sederhana lagi sebelumnya. “Saya menelitinya bertahun-tahun untuk belajar replikator dan sistem genetik apa yang mungkin ada sebelum dunia RNA,” kata pemimpin tim peneliti ini Professor Reza Ghadiri, ahli kimia Scripps Research
Satu fokus kuncu untuk tim Ghadiri adalah peran purba potensial dari asam amino. Tahun 1996, kelompok ini menunjukkan pertama kali kalau untai asam amino, atau peptida, dapat mereplikasi diri sendiri pada kondisi bebas enzim. Dalam karya saat ini, lab Ghadiri memperluas fokus ini dengan menciptakan tipe lain sistem informasi yang mampu meniru evolusi Darwin. “Ini adalah langkah awal menuju kesitu,” kata Ghadiri.
Balok bangunan yang lebih sederhana
Sementara sebagian besar penelitian dengan analog DNA seperti PNA berfokus pada basa nukleat yang telah ada pada satuan tulang punggung mereka, Ghadiri mendapat gagasan untuk bekerja dengan balok bangunan yang lebih sederhana. Bila balok-balok ini telah dengan mudah membalik ikatan, tidak seperti DNA dan PNA, ia dapat menghindari kebutuhan enzim sementara mempertahankan ciri kunci untuk menyandikan informasi.
Melihat kembali pada keberhasilan percobaan kemudian, Ghadiri mengatakan, “Ini saatnya anda mengatakan pada diri anda sendiri, “Kenapa tidak terpikir oleh saya dulu?”
Sistem baru yang dihasilkan memuat dua tipe komponen utama. Satuan tulang punggung adalah peptida yang terkait dalam sebuah pola himpunan dengan asam amino sistein yang terekspos dan tersedia untuk bereaksi. Peptida ini berinteraksi dengan basa nukleat yang sama yang ditemukan dalam DNA, namun setiap basa nukleat terikat pada satu senyawa organik yang disebut tioester.
Ikatan tioester dapat balik dengan sistein pada peptida untuk membentuk asam nukleat peptida tioester (tPNA). Ini memungkinkan basa nukleat melekat dan melepas sendiri tanpa enzim, sehingga untai peptida tersebut akan menopang barisan basa nukleat yang bergeser-geser. Proses ini seperti tentara yang berjalan di lapangan untuk membentuk sebuah formasi lalu pindah ke formasi lainnya.
Bila segmen terbuka dari DNA ditambahkan sebagai landasan pada sebuah larutan dengan komponen tPNA, tentara basa nukleat akan secara otomatis membentuk formasi pada untai peptida yang mengkomplemen DNA sesuai aturan standar Watson-Crick dimana adenin dengan timin dan sitosin dengan guanin.
Ikatan untai tPNA dan DNA dapat berkomplementer, namun pasangan ini dapat dibuka kembali dengan menambahkan campuran DNA komplementer, yang mengalahkan tPNA dalam ruang pada landasan awal. Pasangan DNA-DNA tetap stabil, menyebabkan komponen tPNA kembali bergetar secara tidak stabil hingga landas DNA baru ditambahkan dan proses mulai kembali.
Tim Ghadiri juga mampu menunjukkan kalau untai tPNA dapat menjadi sebuah landasan, menyebabkan pembentukan tPNA pengganti dan saling pasang untai, walau mereka belum dapat mencapai replikasi diri tPNA, tujuan puncaknya.
Semua penyusun kimia dari tPNA dapat ditemukan dalam dunia sebelum kehidupan muncul. “Jadi menggoda untuk memikirkan kemungkinan kalau peptida dan asam nukleat berperan dalam sistem genetika purba,” kata Ghadiri.
Walau demikian, karena tPNA dapat dengan mudah terurai, untai ini tidak secara teknis mengirim informasi, dan transmisi itulah yang justru merupakan cara DNA mengendalikan kehidupan.
Agar lebih memahami peran purba tPNA potensial, tim ini kini mencari cara sehingga unit tPNA dapat secara kimia diubah sedemikian hingga pada satu titik para tentara mulai saling mengunci tangan setelah mencapai formasi tertentu, memungkinkan lewatnya informasi. Tim ini juga meneliti struktur tPNA, yang dapat berupa heliks ganda atau sangat berbeda.
Melebihi pertanyaan asal usul kehidupan, Ghadiri mengatakan kalau penelitian ini juga menawarkan beberapa kemungkinan jauh yang menarik, khususnya dalam mempertimbangkan kalau ada tak terhitung kemungkinan menciptakan sistem sama dengan tPNA memakai beragam penyusun kimia. Sistem demikian dapat membawa p ada pembentukan enzim baru atau zat kimia baru yang mampu mengkatalis reaksi dalam penggunaan biomedis atau lainnya. ”Kapasitas untuk memiliki struktur lipat seperti asam amino dengan fitur protein akan memberi kita fungsionalitas baru,” katanya, walau mustahil mengatakan apa fungsionalitas baru itu sekarang.
Ghadiri juga membayangkan pilihan sains fiksi untuk bahan terkait tPNA seperti plastik yang dapat memperbaiki dirinya sendiri saat pecah. Kemungkinan lain, terikat pada bagaimana tPNA menyusun diri saat di ekspos beragam landasan, dapat menciptakan bahan yang dapat memodelkan dirinya sendiri dengan merespon perubahan lingkungan.
”Anda dapat secara prinsip melakukan banyak hal, dan kami antusias mengenai prospeknya,” kata Ghadiri. "Ini baru awal."
Selain Orgel dan Ghadiri peneliti lain adalah Yasuvuki Ura, John Beierle, dan Luke Leman, semuanya dari Scripps Research Institute.
Penelitian ini didukung oleh Skaggs Institute for Chemical Biology, NASA Earth and Space Science Fellowship Program, dan NASA Science Mission Directorate's Planetary Science Division. Paper ini didedikasikan untuk mendiang Leslie E. Orgel.
Journal reference:
1. Yasuyuki Ura, John M. Beierle, Luke J. Leman, Leslie E. Orgel, M. Reza Ghadiri. Self-Assembling Sequence-Adaptive Peptide Nucleic Acids. Science, 2009 DOI: 10.1126/science.1174577
